30 MENIT BERSAMA PURPLA : Soundtrack FIFA Hingga Superealita

SG SUCCESS STORY #02 : Pelem Ukulele, Ketika Mangga jadi Istimewa
October 25, 2020
Menanti Evolusi Humidumi
November 19, 2020

30 MENIT BERSAMA PURPLA : Soundtrack FIFA Hingga Superealita

(Kiri ke Kanan) Bayu, Danar, Danish, dan Dioma (foto : dokumen Purpla)

Sepak bola nampaknya jadi hal yang paling lekat pada band rock alternatif asal Jakarta, Purpla sejak awal kemunculannya. Mulai dari personel yang selalu memakai jersey sepak bola saat di video klip, hingga lagu bertemakan sepak bola yang menjadi singel terakhir Purpla beberapa minggu lalu.

Ya, singel berjudul “Ayolah…!” menjadi bukti sahih terkini kalo band ini sangat lekat dengan citra sepak bola. Dirilis di IGTV dan juga kanal Youtube mereka. “Ayolah…!” ditampilkan dalam bentuk video klip dengan sudut pandang suporter sepak bola Indonesia.

Jika merujuk pada pers release yang diterima SuiGeneris, Purpla ingin “Ayolah…!” memberikan energi untuk tetap semangat dalam menghadapi tantangan, baik di sepak bola maupun kehidupan sehari-hari.

“Lagu ini (Ayolah…!) bikin Purpla seakan balik ke tujuan awal waktu ngebentuk band ini. Gue ingat banget waktu ngobrol sama personel yang lain, ‘yuk bikin band yang lagunya kaya soundtrack-soundtrack FIFA gitu lah!’ dan semua antusias,” ujar Dewandra Danishwara (Danish), gitaris sekaligus motor band ini.

Purpla terbentuk sejak 2016, tepatnya setelah Danish pulang dari studinya di kota Manchester, Inggris. Di Jakarta, Danish kemudian bertemu Danar Astohari (vokal), Bayu Malindo (bass), dan Dioma Asatsuku (drum) yang tak lain adalah kawan lama Danish.

Oia, sekedar informasi, sebelumnya Danish juga dikenal sebagai vokalis-gitaris trio grunge asal Surabaya, ZORV yang sudah menelurkan sebuah album berjudul “Savage” pada 2013.

Lantas, bagaimana hingga Danish membentuk Purpla? Bagaimana pula mereka membentuk musik yang terinspirasi dari soundtrack FIFA? Apa mereka berencana merilis sebuah album? Akhir pekan lalu, SuiGeneris berbincang 30 menit bersama Danish (gitar) dan Dioma (drum) melalui sambungan Google Meet. Obrolan tersebut bisa kamu simak di bawah ini!

Sui Generis (SG) : Jadi, Purpla ini benar-benar proyek pertama lo setelah dari Zorv dan pulang dari Manchester di 2016?
Danish (Da) : Betul

SG : Gimana ceritanya sampai elo ketemu tiga personel lainnya dan membentuk Purpla?

Da : First thing first, semuanya memang teman lama aja sih. Gue udah kenal lama. Dioma juga udah punya band, salah satunya Morscode. Nah, kebetulan pas gue balik ke Indo, pengen banget ngeband kan. Nih materi dapat banyak banget, insight pas dari UK kayaknya gue merasa ada pengaruh banyak banget pas tinggal di sana. Terus pas balik, kebetulan gue juga belum ngantor tuh selama setahun di 2016. Jadinya bisa punya banyak waktu buat ngeband.

Waktu itu mimpinya besar tuh. Mulai latihan sama yang lain, eh, langsung bikin video klip (untuk singel pertama berjudul “Superealita”) sampai sok-sokan ikut Record Store Day (RSD) 2016. Ikutan jualan. Menurut gue itu step pertama nya. Baru punya satu lagu udah sok-sok ikut RSD.
Unfortunately, waktu itu gue ada masalah sama Danar vokalis gue, ada masalah internal gitu lah, yang menurut gue, wah nggak bisa jalan nih band. Akhirnya gue apply kerja di Shopee, eh, malah ketrima. Yaudah lah 2 tahunan itu gue sibuk banget kerja, kantoran. Udah nggak kepikiran ngeband.

2017 bisa dibilang vakum sih. Kita sempat cari vokalis baru juga di 2018 sampai 2019 tapi nggak nemu-nemu nih. Sampai akhirnya kita kepikiran, “kenapa nggak kontak Danar lagi aja sih? Yaudah lah udah beres lah jmasalahnya, udah pada gede ya kan?” Cuma ya akhirnya 2019 ngobrol lagi sama Danar, ternyata dia semangat lagi.

SG : Dari situ langsung produktif bikin lagu lagi?
D : Ya itulah 2019 gue ngelarin lagu ketiga kami, ‘Ayolah…!’ akhirnya ngetake. 2020 baru rilis “Timur Jakarta.” Sebenernya malah lagu “Timur Jakarta” itu ditake session nya sama kayak “Superealita”, tapi baru dirilis di 2020.

SG : Barengan?
D : Sebenernya barengan. Cuma kelar “Superealita” tuh menurut gue sama anak-anak harusnya rekamannya (“Timur Jakarta”) bisa lebih bagus lagi nih. Jadi kurang puas. Makanya “Timur Jakarta” ditahan dulu. Nah pas rilis “Timur Jakarta” tuh, somehow lagu ini dapet banget sih. Kayak dapat rejekinya, kami masuk (playlist Spotify) Indienesia. Itu kan gue lihat-lihat susah banget ya. Sampai sekarang aja susah banget untuk tembus lagi. Gue lihat yang ada di playlist itu band level A semua, kenapa Purpla bisa sampai masuk Indienesia? Berarti mungkin menurut mereka lagu ini oke. Dari sini anak-anak makin semangat.
Ke sini-sini targetnya anak-anak pengennya album. Menurut kami, lo ngeband tapi lagunya Cuma satu-dua ya buat apaan? Jadi nggak sampai message nya. Sampai sekarang kami sudah rekaman beberapa, tinggal tiga lagu lagi lah untuk album. Rencananya 2021 masih dilihat lagi lah tanggalnya.

SG : Soal soundtrack FIFA, kenapa arahnya ke sana?
D : Gue bisa bilang, kadang ada aja orang yang comment “nih orang (band) mau main futsal apa gimana?” Hahaha. Ya nggak apa-apa. Bahkan bisa dibilang dari awal “Superealita” itu kalo lo perhatiin kami sengaja, Bayu tuh di “Superealita” pakai jersey Italia, di “Timur Jakarta” pakai jersey Southampton


Dioma (Di) : Jadi waktu itu ceritanya, agak flashback dikit, Danish balik dari Manchester ngajakin ngeband terus gue bilang, ‘Tapi Nish mainin lagunya yang lebih simpel yuk, juga tema-tema yang dibawain ya tema-tema yang melekat di orang banyak. Kita coba tuh cari benang merahnya. Ternyata benang merahnya itu ya dari kami berempat. Empat-empatnya emang doyan bola parah. Danish MU, Bayu sama Danar Milanisti, gue Juventus. Ketika kita nggak ngomongin band, ya ngomonginnya bola. Dari situ lah muncul, musik yang kita bawain spiritnya harus bola. Sementara sepak bola paling melekat dari kita kecil ya (game) FIFA. “Yang bisa jadi soundtrack FIFA deh” nah dari situlah spirit anak-anak diejawantahkan melalui karakter masing-masing.

SG : Berarti empat-empatnya mainnya FIFA ya dari kecil? Bukan Winning Eleven? Atau PES?
D & Di : Main lah hahaha.
D : Ya intinya bola lah hahaha

SG : Tadi kan secara spiritnya, lalu secara musik gimana?

D : Secondary vibe nya mungkin bola. Tapi kalo liriknya yang gue ambil tuh, justru gue…yang bikin gue mikir tuh pas gue di Inggris, ‘Kenapa bandnya keren-keren ya?” Jawabannya ya karena mereka jadi diri mereka sendiri. Membanggakan kota mereka sendiri. Oasis bangga dengan Manchester nya, Blur bangga berasal dari London.

Nah, somehow pas gue di sana gue tahu, di Surabaya Silampukau lagi rilis album. Gue perhatikan albumnya bercerita tentang Surabaya dan dinyanyikan dengan gaya mereka sendiri. Apalagi gue tau mas Eki (Eki Tresnowening, personel Silampukau) kan orangnya ya memang apa adanya seperti itu. Down to earth banget.

Dia menyanyikan itu ya karena dia kayak begitu. Nah, dari situ gue mikir, yaudah Purpla jadi kita-kita aja, jadi apa adanya. Kita berasal dari Jakarta Timur ya yaudah tulis lagu tentang “Timur Jakarta,” emang gue sekolah di sana 12 tahun gitu. Dan “Superealita” juga gue yang nulis,  waktu baru banget gue pulang ke Jakarta, “duh, orang-orang pada ngebut banget sih hidupnya,” yaudah lagu itu vibenya tentang Jakarta. Orang bangun pagi, terus kerja, terus berulang lagi besoknya, sumpek.

SG : Nah, terms “Superealita” sendiri itu emang belum pernah ada ya? Pertama kali kalian yang pakai?

D : Jujur kalo gue ngambilnya dari “Supersonic” nya Oasis sih. Hahaha. Gue kayak, nulis lagu ini tentang realita modern. Waktu itu sempet kepikiran “Peradaban,” apaan sih peradaban? Bisa diliat liriknya Superealita emang awalnya “Selamat datang di peradaban..” Tapi kayanya emang bukan takdirnya untuk jadi judul lagu Purpla haha

Di : Ada juga di lirik lagu itu kata-kata masyarakat madani.

D : Iya, nggak tau ya, itu naturally keluar aja. Yang nyambung sama kata “realita” apa ya? Ya pas banget waktu itu lagi dengerin “Supersonic,” “Superealita” asik kali ya. Realita yang besar. Masuk juga sih

SG : Terakhir, pertanyaan standar semua band, kenapa namanya Purpla? Hahaha

D : Gue ada template nya gini. Kenapa Purpla? Karena kalo Ungu udah ada yg pakai Hahaha. Dad Jokes banget anjir!

Di : Kalo nggak salah waktu itu kami brainstorm ada nama band banyak banget lah. Ada yang gimana-gimana, tiba-tiba ada yang nyeplos “Purpla-Purpla,” yaudah. Terus, kita tu waktu itu mikirnya gini : ‘nama band harus cakep kalo dalam bentuk font dan kalo dibentuk merchandise,’ Nah waktu itu pas keceplosan Purpla langsung edit-edit tuh di handphone. Nyari fontnya segala macem. Diwarnai warna apa aja juga masuk. Simpel. Yaudah Oke lah. Nggak ada artinya juga hahahaha