SG SUCCESS STORY #02 : Pelem Ukulele, Ketika Mangga jadi Istimewa

Menengok The Brandals yang Produktif : Dari Piringan Hitam hingga Single Terbaru
October 17, 2020
30 MENIT BERSAMA PURPLA : Soundtrack FIFA Hingga Superealita
November 10, 2020

SG SUCCESS STORY #02 : Pelem Ukulele, Ketika Mangga jadi Istimewa

Wafiq Giotama (Ogi) merintis usaha Pelem Ukulele dari 2011 (foto dok. pribadi)

Coba cari kata “Pelem Ukulele” pada mesin pencari google. Maka, selain daftar katalog market place yang mejual produk “pelem ukulele”, beberapa artikel yang membahas keunikan produk ini juga bakal keluar. Nggak ketinggalan video-video dokumenter berisi liputan tentang produk “Pelem Ukulele” lengkap dengan sesi wawancara bersama dua orang perintisnya, Fadil Firdaus dan Wafiq Giotama.

Ya, saking uniknya, produk Pelem Ukulele cukup mendapat banyak sorotan dari media online hingga deretan channel para content creator di Indonesia. Ini memudahkan calon pembeli untuk menemukan informasi tentang produk Pelem Ukulele secara lengkap.

Adalah Fadil Firdaus dan Wafiq Giotama (atau yang akrab disapa Ogi), dua orang sahabat asal Yogyakarta yang merintis produk Pelem Ukulele sejak tahun 2011. Berawal dari “masalah” keduanya yang juga adalah pemain ukulele sejak 2009, keduanya sepakat membuat produk ukulele sendiri.

Semasa SMA, Fadil dan Ogi bermasalah dengan biaya untuk membeli ukulele yang berkualitas. Ketika itu harga sebuah ukulele yang mencapai Rp 6.000.000 terbilang sangat mahal untuk kantong anak SMA.

Sampai akhirnya punya unit ukulele sendiri, ketidak puasan itu masih jadi masalah. Kepada SuiGeneris, Ogi bilang kalo dirinya dan Fadhil tidak puas dengan sound dari ukulele yang mereka punya pada saat itu. Kalo pun mereka mau beli ukulele dengan sound Hawai seperti standar mereka, keduanya harus membeli ukulele impor yang harganya mulai di harga Rp 11 hingga 12.000.000 lebih.

“Jadi dulu mas Fadhil punya studio recording. Terus, aku kebetulan juga beberapa kali rekaman di tempat mas Fadhil itu sampai ada titik ketidak-puasan itu. ‘Ini seharusnya bisa lebih bagus dari ini” karena kita refrensi sound kami juga dari merk-merk yang mahal,” cerita Ogi membuka sesi obrolan.

Beruntung, gagasan mereka nggak jauh dari apa yang sudah menjadi usaha keluarga Fadhil. “Dulu kebetulan bapaknya mas Fadhil itu main mebel, furniture gitu. Terus di situ ada kayu mangga. Kebetulan kalo ukulele premium yang di Hawai, kayunya juga pakai kayu mangga. Dari sini kami nyamain spek lah sama yang ada di luar,” sambung Ogi.

FYI. kondisi produk ukulele yang ada di Indonesia pada saat itu belum banyak yang menggunakan kayu dari pohon Mangga. Melihat peluang ini, Ogi dan Fadhil pun tancap gas menjadikan kayu mangga sebagai bahan utama produk ukulele mereka dan sekaligus menamai produk mereka dengan merk “Pelem Ukulele.” Pelem sendiri dalam Bahasa Jawa artinya adalah mangga.

Kenapa harus ukulele? Kenapa mangga?

Salah satu produk Pelem Ukulele

Kepada SuiGeneris, dalam obrolan melalui Google Meet, Ogi menjelaskan kenapa kayu dari pohon mangga begitu istimewa ketimbang kayu dari pohon lainnya. Dari yang kita tahu, jenis kayu yang sering digunakan untuk membuat ukulele dan gitar di Indonesia masih didominasi oleh kayu plywood (triplek), rosewood, dan mahoni (khusus untuk segmen gitar premium).

“Bahan material yang plywood, kabinet, yang kayak triplek itu memang suaranya tidak bisa sebulat yang pakai kayu solid ini tadi. Apapun jenis kayu solidnya ya. Jadi, kalo dalam sebuah rekaman, itu bakal “tembus”, kerasanya sih gitu. Apalagi ukulele kan bodynya kecil, kalo materialnya “kurang”, dia bakal susah untuk ngeblend sama instrumen lain, bakal kalah sama instrumen-instrumen lain, itu concern kami ketika itu kenapa harus pakai kayu mangga,” ungkap Ogi panjang lebar.

Untuk ukulele sendiri, Ogi mengaku sudah belajar dan memainkan insrumen ukulele sejak kelas 1 SMA. Dan semenjak saat itu juga Ogi sudah bermain dalam sebuah band berperan sebagai pemain ukulele. Kenapa ukulele? Alasannya sederhanal, Ogi tidak bisa bermain gitar dan bisanya hanya bermain ukulele, begitu pengakuannya kepada kami.

Jatuh Bangun Usaha Ukulele

Pembuatan Pelem Ukulele di Bantul, Yogyakarta

Meski awalnya sudah memiliki usaha studio rekaman dan diakui Fadhil usahanya menurun di tahun 2010, dirinya langsung mengajak Ogi yang ketika itu sering rekaman di studionya, untuk membuat usaha ukulele. Awalnya Ogi, yang memiliki latar belakang kuliah manajemen, hanya berperan sebagai marketing. Sementara Fadhil, yang berlatar belakang sebagai anak lulusan arsitektur, lebih fokus ke pemilihan bahan dan produk.

Lama kelamaan Ogi pun turut serta dalam proses produksi dan juga distribusi. Ogi tidak menyebutkan kepada kami berapa modal awal yang digunakan untuk merintis Pelem Ukulele. “Yang jelas sudah sampai minjem Bank juga, mas. Hahaha,” celetuknya mengenang masa-masa merintis produk ini.

“Untuk menjual produk ini tuh kami nggak berdasarkan market yang ada. Bahkan ketika itu, bisa dibilang marketnya belum ada. Siapa sih yang mau spend untuk ukulele harga jutaan di tahun 2011 – 2012? Saya rasa nggak mungkin. Atas dasar kesenangan saja sih waktu itu akhirnya lebih terlibat di pelem ukulele,” jelas Ogi.

Masih teringat di ingatan Ogi, market ukulele justru baru terbentuk di tiga tahun belakangan. Di tiga tahun ini pun konsumen ukulele masih didominasi konsumen dari Indonesia, meskipun banyak juga yang membeli Pelem Ukulele dari luar negeri. Mulai dari Singapura, Malaysia, bahkan hingga dari Hawai sendiri.

Dengan kegigihan dan telaten Ogi dan Fadhil terus mempelajari pasar ukulele dari tahun ke tahun. Ini semakin mudah dipelajari mengingat distribusi penjualan masih melalui direct selling. “Biasanya ya langsung di website ( pelemukulele.com ), Baru kalo ada stok lebih, kami juga menjual di beberapa market place,” ujar Ogi.

Pandemi justru banjir rejeki

Jika kebanyakan sektor musik “lumpuh” karena efek pandemi 7 bulan terakhir, Pelem Ukulele justru banjir order. “Mungkin karena orang-orang banyak yang di rumah ya, mereka bingung mau ngapain lagi, ya sudah main ukulele saja,” ungkap Ogi.

Selain dari segi penghasilan, diakui Ogi, beberapa customer barunya malah ada yang sampai mengulik apa itu ukulele.

“Karena waktu di rumah tadi kali ya, mereka lebih punya waktu mengulik soal ukulele. Jadi kita sebagai yang jual, lebih enak, oh ternyata dia sudah tau ya apa yang dimau. Dia sudah tau material kayu dan sebagainya. Itu sebenernya yang bikin ekosistem pengguna ukulele ini semakin bagus,” kata Ogi.

Dengan adanya “peluang” konsumen-konsumen yang mengulik tadi, strategi Pelem Ukulele memberi pengetahuan tentang ukulele di website dan konten-konten digital mereka pun jadi sejalan. Coba, buka saja pelemukulele.com, klik channel “PRODUCTS”, maka kamu juga akan menemukan sub-website berisi Anatomy & Dimensions tetang ukulele. “Jadinya konsumen jadi lebih paham dan familiar sama ukulele,” tutup Ogi.

Nah, buat kamu yang ingin lebih paham tentang Pelem Ukulele, bisa langsung tonton video di bawah ini ya