30 MENIT BERSAMA Murphy Radio : Ditinggal Drummer hingga Kisah Vibrant Colors

Cerita Di Balik Foto Si Bule-Ngakunya-Australi Bareng Via Heals
July 10, 2020
SUIGENERIS Playlist July 2020
July 29, 2020

30 MENIT BERSAMA Murphy Radio : Ditinggal Drummer hingga Kisah Vibrant Colors

Wendra (gitar) dan Aldi (bass), dua personel Murphy Radio tersisa (Foto : dok. Murphy Radio)

2018 silam kancah musik independen Indonesia dianugerahi talenta segar dari Timur Kalimantan bernama Murphy Radio. Self titled album yang dirilis dua tahun lalu berhasil memantik keseruan baru di kancah musik dan tentunya menciptakan atensi lebih khusus kepada trio math-rock asal Samarinda ini.

Ya, math-rock memang genre musik yang masih sangat baru di Indonesia. Berakar dari gaya bermusik progresif rock dan attitude indie rock, genre ini berkembang di dua titik belahan dunia yang berbeda. Ada yang bertemu culture emo di mid-west Amerika Serikat pada tahun 2000-an melahirkan nama-nama seperti American Football dan Chon, ada pula yang berkembang di Jepang dan melahirkan nama-nama seperti toe, 3nd, dan mouse on the keys.

Selagi math-rock hanya dimainkan oleh segelintir band di Negeri ini, Murphy Radio justru muncul ke permukaan dengan menggabungkan dua pengaruh tadi. “Inspirasinya nggak jauh-jauh dari American Footall, toe, Elephant Gym, sampai Chon,” terang Happy, manager Murphy Radio seperti dilansir Tirto.id.

“Ada nuansa twinkle, midwest emo, dan tentunya, math-rock itu sendiri. Pengennya menggabungkan antara dimensi Barat dan Timur,” sambungnya dari sumber yang sama. Penasaran dengan masing-masin sosok personel Murphy Radio, Sui Generis pun memutuskan menghubungi mereka langsung pekan lalu.

Diawali perkenalan dan membicarakan rilisan terbaru mereka, “Vibrant Colors” yang rilis Maret 2020 lalu, kami pun mendapat update terkini : ternyata Murphy Radio kini tinggal berdua. Bersama dua personel tersisa : Wendra (gitar) dan Aldi Yamin (bass), berikut versi lengkap obrolan 30 MENIT bersama Murphy Radio.

Sui Generis (SG) : Halo Murphy Radio, apa kabar?

Aldi (A) : Alhamdulilah baik mas

SG : Terakhir melihat kalian jadi foto cover playlist “Gelombang Alternatif” di Spotify kalian kini tinggal berdua, bagaimana ceritanya bisa tinggal berdua?

A : iya karena kebetulan drummer kami harus fokus di bisnis yang sedang di bangun, jd akhirnya kita coba berdua dulu, krn cukup sulit untuk penyesuaian lagi

SG : Oh begitu. Di rilisan terakhir kalian, “Vibrant Colors” apakah masih dikerjakan bertiga?

A : Ya, di vibrant colors, saat menggarap masih kami bertiga

Wendra (W) : Sebenernya untuk dua lagu di “Vibrant Colors” itu udah dikerjain nggak jauh dari habis perilisan album kemarin, cuma emang baru dirilisnya tahun ini karena ada sedikit kendala kemarin hehehe. Jadi ya itu masih dikerjain bertiga degan formasi yang kemarin

SG : Jadi si “Vibrant Colors” bisa dibilang materi lama yang nggak masuk di album pertama dong?

W : Jadi sebenernya dua lagu di “Vibrant Colors” itu rencana mau kami rilis dalam format split EP, tapi karena kemarin selisihan dan jadwalnya emang masing-masing band pada padet-padet sampai akhirnya ketunda dulu. Karena materinya udah kelar dan kami pikir sayang jadi akhirnya kami rilis sebagai double single dulu. Di situ baru kami pikirin konsepnya seperti apa

SG : Oh begitu, lalu untuk menulis lirik “Sandy” apakah kalian melakukan observasi secara khusus di SLB Pembina?

W : Nah, saya cerita dikit ya mas, kebetulan waktu itu saya lagi di minimarket. Sebelum saya turun, saya ngelihat ada ibu sama anaknya dateng naik motor. Tapi anaknya nunggu di motor, dia down syndrome, setelah saya perhatiin disitu saya kepikiran kenapa ngga nulis lagu tentang anak berkebutuhan khusus? Karena saya lihat anak itu duduk di motor senyum dan terlihat seperti sedang ngobrol sama seseorang gitu, jadi saya pikir mungkin anak-anak seperti dia itu punya pandangan yang berbeda dalam ngelihat sekitar dan mungkin apa yang dia lihat lebih indah dan lebih berwarna dari apa yang saya lihat.

SG : I see. Dari situ akhirnya muncul lagu “Sandy” ya. Lalu observasi di SLB-nya sendiri bagaimana?

A : Sebenarnya observasi dilakukan justru saat mau membuat video clip. Untuk lirik sendiri merupakan interpretasi dari Wendra saat berpapasan dengan seorang anak down-syndrome tadi.

SG : Memilih Hari Down Syndrome sedunia untuk kembali muncul dan merilis karya yang juga sesuai dengan momen hari itu, apa sudah terpikir sejak lama?

W : Nah kebetulan Hari Down Syndrome sedunia itu tanggal 21 maret yang emang waktu itu kita juga sedang proses pngambilan video di SLB pembina

SG : Baik. Lalu, apakah ada karya yang sedang dikerjakan lagi?

W : Kalo saya pribadi itu kalo ngga ada kerjaan kadang suka nulis-nulis lagu aja mas hehehe. Jadi emang materi jalan terus, tapi untuk sementara saya emang lagi fokus garap buat album berikutnya hehehe

SG : Nah, apakah di album selanjutnya kalian akan tetap mengusung math-rock?

W : Yang pasti akan ada sesuatu yang beda, tapi mungkin ngga akan trlalu jauh dari materi-materi Murphy yang sebelum nya mas

SG : Terakhir, agar kami ter-update musisi-musisi keren dari Samarinda lainnya, beri kami lima rekomendasi musisi/ band kota kalian yang harus kami dengarkan?

A : Walkinsomnia, Pennoser, Grosfuss, apalagi Wen? Hahaha

Happy (H) : The Tides, Seröjja

W : Seröjja keren sih! Pennoser, Walkinsomnia juga